Peringatan KAA: Refleksi bagi Akademisi tentang Imperialisme Digital

Dosen dan mahasiswa Universitas Islam Blitar (UNISBA Blitar) turut berpartisipasi  dalam Seminar internasional bertajuk “Bung Karno In a Global History” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Proklamator Bung Karno pada Sabtu, 01 November 2025.  Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati 70 tahun KAA (Commemorative Seminar of the 70th Anniversary of the 1955 Bandung Asia-African Conference).  Konferensi  ini diikuti oleh sekitar 30 akademisi dan delegasi dari 30 negara, yang bersama-sama menandai kembalinya semangat dan solidaritas Asia–Afrika dari tanah kelahiran Bung Karno.

Kehadiran civitas akademika UNISBA Blitar ini memperlihatkan komitmen dalam mendukung semangat peradaban dunia baru  yang berkeadilan dan berhati nurani, berdasarkan nilai-nilai moral dan Pancasila, bukan sekadar kekuatan teknologi  seperti AI dan algoritma.

Pernyataan ini sejalan dengan pidato Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri pada kegiatan konferensi ini.  Ia mengingatkan bahaya imperialisme digital dan neokolonialisme yang menggerus kedaulatan bangsa.

“Jika dulu penjajahan hadir dengan meriam dan kapal perang, nah ini yang saya katakan, maka kini ia datang melalui algoritma dan data, melalui kendali ekonomi dan teknologi digital. Belum lagi ketimpa AI. Nah ini, Aritficial Intelligence, teknologi Big Data, dan sistem keuangan digital lintas batas telah melahirkan kolonialisme gaya baru, yakni neokolonialisme digital,” kata   Megawati.

Bertindak sebagai pembicara utama, Megawati menekankan kembali pokok isi pidato Soekarno pada saat Konferensi Asia Afrika beberapa tahun silam, yaitu “To Build The World A New”. Untuk itu, ia menegaskan  saatnya  membangun dunia baru yang berkeadilan dan berhati nurani.

“Kalau menurut saya ya, kenapa tidak (bikin) ‘To Build The World A New?’ Yang mana kehidupan manusia dilaksanakan secara damai dengan menyerukan pentingnya moralitas peradaban. Dunia baru harus dibangun berdasarkan keadilan. Dengan tetap menggunakan kekuatan moral, bukan sekadar teknologi atau Artificial Intelligence (AI).” ujarnya.

Oleh karena itu, dalam pidatonya, Putri Presiden RI pertama  menegaskan  bahwa keberanian moral dan solidaritas, serta kepemimpinan, dibutuhkan tidak hanya visioner tetapi juga futuristik.

Dalam closing statement-nya, Megawati menekankan kembali bahwa peradaban dunia baru harus mementingkan peradaban dan hati nurani berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang mulia dan universal.

“Dari Blitar ini, dari Pusara Bung Karno, saya ingin menyerukan kepada dunia, mari kita bangun dunia yang baru, dunia yang tidak tunduk pada mesin dan modal tetapi yang menempatkan manusia sebagai pusat peradaban dunia yang tidak ditentukan oleh siapa yang memegang kekuasaan terbesar, tetapi siapa yang paling berkeadaban. Dunia yang tidak diatur oleh algoritma tanpa hati nurani tetapi oleh nilai-nilai Pancasila yang memuliakan kehidupan,” tutup Megawati Soekarno Putri dalam Pidatonya, Sabtu siang lalu (01/10/2025).

Selain menyoroti relevansi nilai-nilai KAA di tengah tantangan global masa kini,  Megawati  juga  menekankan pentingnya semangat KAA dalam menjawab isu-isu dunia modern, seperti ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, serta konflik geopolitik.

Peringatan KAA: Refleksi bagi Akademisi tentang Imperialisme Digital
Foto: Mantan Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri pada peringatan 70 tahun KAA (Commemorative Seminar of the 70th Anniversary of the 1955 Bandung Asia-African Conference)

Setelah  paparan dari Megawati , kegiatan dilanjutkan dengan  seminar internasional  yang menghadirkan tiga pembicara , yakni  Connie Rahakundini Bakrie, pengamat pertahanan yang juga Guru Besar St. Petersburg State University Rusia, Jovan Cavoski dari  Institute for Recent History of Serbia,   Beatriz Bissio (Federal University of Rio de Janeiro, Brazil).

Anita Reta, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi mengatakan partisipasi UNISBA dalam seminar ini   sebagai bentuk nyata kontribusi dalam perjuangan moral dan sosial sekaligus pemikiran kritis terhadap tantangan imperialisme digital dan dominasi teknologi tanpa hati nurani yang menjadi sorotan utama seminar. Dengan keterlibatan ini, UNISBA mengukuhkan peran aktifnya dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, menyongsong masa. (Annisa Rosyidatuzzahra/Anita Reta)

Peringatan KAA: Refleksi bagi Akademisi tentang Imperialisme Digital
Tagged on: