KKN Kolaboratif ASPIKOM Dorong Petani Podokoyo Bangun Branding Kentang Merah

Di balik sejuknya udara pegunungan Desa Podokoyo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, hamparan kebun kentang merah menjadi sumber penghidupan sekaligus harapan petani setempat. KKN Kolaboratif ASPIKOM Jawa Timur memperkenalkan kentang merah Podokoyo melalui film dokumenter sebagai upaya memperkuat branding komoditas lokal yang belum banyak dikenal di luar daerah.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program KKN Kolaboratif Tematik Komunikasi Pariwisata ASPIKOM Jatim Impact Collaboratory 2026, yang melibatkan enam perguruan tinggi di Jawa Timur, yakni Universitas Islam Balitar, Universitas Yudharta Pasuruan, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Universitas Darussalam Gontor, dan STIKOSA-AWS Surabaya. 

KKN Kolaboratif ASPIKOM Dorong Petani Podokoyo Bangun Branding Kentang Merah
Foto: Mahasiswa KKN sedang melakukan wawancara dokumenter bersama salah satu petani kentang yang ada di Desa Podokoyo

Sukiatin, salah seorang petani kentang merah di Desa Podokoyo mengungkapkan awalnya ia menanam kentang kuning varietas Titan dengan harga sekitar Rp37.500 per kilogram. Namun, seiring waktu, ia beralih menanam kentang merah yang dinilai memiliki peluang lebih menjanjikan. Untuk memulai budidaya, bibit kentang merah didatangkan langsung dari Kediri sebanyak lima krat atau 2.300 bibit.
“Sebelumnya saya menanam kentang kuning varietas Titan, harganya sekitar Rp37.500 per kilogram. Kemudian saya beralih ke kentang merah, ambil bibit dari Kediri, sekitar 2.300 bibit,” ujar Sukiatin.

Bagi Warga Desa Padokoyo, kentang merah bukan sekadar komoditas biasa. Harga bibit dan nilai jualnya yang relatif tinggi menjadikannya komoditas bernilai, dengan rasa yang gurih dan tekstur yang lebih padat sehingga disukai berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Tak hanya dijual segar, kentang merah juga berpotensi diolah menjadi beragam produk, seperti kue, donat, hingga keripik.
Kentang merah itu bukan sekadar komoditas biasa. Dari sisi harga itu lebih mahal, rasanya pun gurih, teksturnya lebih padat, dan bisa diolah menjadi berbagai produk, seperti kue, donat, hingga keripik,” ujar Sukiatin.

Menjaga Tradisi, Menguatkan Identitas Podokoyo

Di balik budidaya kentang merah, ada tradisi yang masih dipegang para petani Podokoyo. Penanaman kentang, baik merah maupun kuning, tidak semata-mata ditentukan oleh kesiapan lahan dan bibit, tetapi juga mengikuti penanggalan tradisional. Salah satunya adalah pantangan menanam pada “hari anggur”, yang dipercaya dapat membuat hasil panen tidak menentu.
Karena itu, sebelum memulai masa tanam, petani terlebih dahulu mencari “hari baik”, sebuah pengetahuan yang diwariskan turun-temurun dari generasi sebelumnya.
Sukiatin berharap semakin banyak masyarakat setempat yang tertarik membudidayakannya. “Kalau bisa, ada sepuluh orang lagi yang mau mengelola kentang merah. Dengan begitu, desa ini bisa semakin maju,” harapnya.

Tak berhenti pada budidaya, ia melihat komoditas ini dapat dikembangkan sebagai bagian dari wisata desa. Wisatawan nantinya bisa diajak turun langsung ke kebun, memanen bersama petani, mengenal proses penanaman yang mengikuti penanggalan lokal, hingga menikmati kentang hasil panen yang dibakar sendiri.

Meski fasilitas wisata permanen belum tersedia, masyarakat telah menyiapkan rencana untuk menyambut pengunjung, seperti menyediakan area parkir dan camilan berbahan dasar kentang merah. Keberadaan Desa Podokoyo di kawasan lereng Gunung Bromo dengan panorama alamnya menjadi modal bagi pengembangan wisata berbasis pertanian tersebut.

Melalui kolaborasi masyarakat dan KKN Kolaboratif ASPIKOM Jawa Timur, kentang merah Podokoyo kini mulai diarahkan untuk memiliki identitas yang lebih kuat.
Branding tidak sekadar memperkenalkan kentang merah sebagai komoditas, tetapi juga membawa cerita tentang petani, tradisi, cita rasa, dan potensi Desa Podokoyo.

Penulis : Annisa Wida
Disunting : AR (Redaktur FISIP)

KKN Kolaboratif ASPIKOM Dorong Petani Podokoyo Bangun Branding Kentang Merah
Tagged on:                 

Copyright@ Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Islam Blitar
2026