Mahasiswa UNISBA Blitar Peserta KKN Kolaboratif ASPIKOM Jatim, Dorong Publikasi Budaya Yadnya Karo melalui Konten

KKN Kolaboratif ASPIKOM Jatim 2026 tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi untuk menjalankan program pengabdian, tetapi juga belajar langsung dari kehidupan budaya masyarakat Tengger. Melalui keterlibatan dalam rangkaian Yadnya Karo 2026 di Desa Ngadiwono dan Desa Podoyo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, mahasiswa memperoleh pengalaman memahami nilai, tradisi, dan praktik komunikasi budaya. Pengalaman tersebut kemudian diwujudkan mahasiswa melalui berbagai konten dan publikasi untuk mengenalkan budaya Tengger kepada masyarakat luas .

Program KKN Kolaboratif Tematik Komunikasi Pariwisata ASPIKOM Jatim Impact Collaboratory 2026 melibatkan enam perguruan tinggi di Jawa Timur, yakni Universitas Islam Blitar, Universitas Yudharta Pasuruan, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Universitas Darussalam Gontor, dan STIKOSA-AWS Surabaya. Kolaborasi pengabdian di Desa Podokoyo dan Ngadiwono Kecamatan Tosari ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas pengalaman belajar sekaligus memahami potensi budaya lokal melalui perspektif komunikasi pariwisata.
Rangkaian kegiatan Yadnya Karo diawali pada akhir Juli 2026 dengan sejumlah prosesi adat masyarakat Tengger yang meliputi ritual keagamaan dan tradisi budaya yang melibatkan sesepuh adat, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Adinda, salah satu mahasiswa KKN Kolaboratif ASPIKOM Jatim dari Universitas Islam Balitar, mengatakan bahwa mengikuti Yadnya Karo menjadi pengalaman pertama yang berharga baginya untuk memahami komunikasi budaya melalui ritual, simbol, dan tradisi masyarakatTengger.

“Bagi kami, saat mengikuti Yadnya Karo, kami tidak hanya menyaksikan berbagai prosesi adat, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dari pengalaman tersebut, kami memahami bahwa komunikasi budaya tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui ritual, simbol, dan tradisi yang hidup di masyarakat,” ujar Adinda.

Dalam tradisi masyarakat Tengger, Yadnya Karo bukan hanya prosesi adat, tetapi juga rangkaian aktivitas sosial yang menyertainya. Salah satunya adalah tradisi Sanja, yakni kegiatan saling berkunjung dan bersilaturahmi yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Tengger. Rangkaian tersebut kemudian berlanjut hingga prosesi penutupan pada 10 Agustus 2026 di Desa Ngadiwono.
Adinda, mahasiswa yang menempati Posko KKN di Dukuh Banyumeneng, Ngadiwono, penutupan Yadnya Karo di Balai Desa Ngadiwono diawali Tari Sodoran. Tarian tersebut menjadi bagian penting yang sarat simbol tentang proses kehidupan manusia.

Di penghujung tarian, ibu-ibu dan anak-anak berebut biji-bijian yang keluar dari tongkat sodor. Biji-bijian tersebut dimaknai sebagai benih atau tunas kehidupan serta simbol harapan akan kesuburan.
Usai prosesi Sodoran, masyarakat Desa Ngadiwono bersama petinggi desa dan pemangku adat menuju Sanggar Pamujan untuk melaksanakan selamatan desa dilanjutkan dengan Tayuban. yang dilakukan para petinggi desa. Selain ritual adat, penutupan Yadnya Karo juga dimeriahkan pertunjukan Bantengan dan Reog. Pada malam harinya, kegiatan berlanjut dengan pertunjukan Campursari di Balai Desa Ngadiwono.

Bagi mahasiswa KKN Kolaboratif ASPIKOM Jatim, keterlibatan dalam rangkaian Yadnya Karo memberikan pengalaman belajar sekaligus ruang untuk mengenalkan budaya Tengger melalui berbagai konten di media sosial. Kegiatan ini menunjukkan peran KKN dalam mengomunikasikan budaya lokal sebagai bagian dari komunikasi pariwisata, dengan tetap menghormati nilai dan karakter masyarakat setempat.

 

Penulis : Adinda Aulia
Disunting : AR (Redaktur FISIP)

Mahasiswa UNISBA Blitar Peserta KKN Kolaboratif ASPIKOM Jatim, Dorong Publikasi Budaya Yadnya Karo melalui Konten
Tagged on:                         

Copyright@ Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Islam Balitar
2025